Keliru Kok Berjama’ah?Sketsa Behavioral Science Berbalut Kaidah Fikih
Keywords:
Behavioral Science, Kaidah Fiqih, Bias KognitifSynopsis
Buku ini berbicara tentang Desain Perilaku Kolektif. Mengarahkan kebijakan dan layanan publik tidak bisa hanya mengandalkan himbauan moral kepada individu per individu. Seperti yang terjadi di Kampung Pisang, mengelola masyarakat selalu melibatkan Intervensi Berbasis Populasi (population-based intervention). Artinya, solusi yang ditawarkan bukan sekadar menyuruh Haji Sedun menjadi orang baik secara privat, melainkan mendesain lingkungan, sistem, dan aturan main yang memungkinkan seluruh warga kampung terhindar dari bias nalar secara massal. Fikih Kognitif hadir untuk merancang "arsitektur pilihan" di mana kemaslahatan kolektif menjadi hasil yang tak terelakkan dari sistem yang telah diaudit secara kognitif.
Satu hal yang harus kita garis bawahi: Fikih Kognitif ini tidak hanya bekerja di gedung-gedung tinggi pemerintahan, melainkan justru bermula dari level kebijakan akar rumput. Melalui fragmen kehidupan Haji Sedun, Gat Karman, dan Guru Sailan, kita melihat bahwa kegagalan sumur resapan atau perdebatan di serambi masjid adalah bukti bahwa bias kognitif menyerang siapa saja.
Bagi masyarakat awam, selemah-lemahnya kita tidak menguasai kerumitan Ushul Fikih, kaidah fikih hadir sebagai navigasi praktis untuk mengambil keputusan yang lebih adil dan jernih di level keseharian. Buku ini adalah montir kecil bagi mesin peradaban yang sering berasap karena salah pikir. Dengan mengenali peta malapetaka ini, kita setidaknya tahu kapan harus berhenti sejenak, menarik napas, dan membiarkan nalar yang jujur menuntun kita menuju kejernihan kognitif yang penuh maslahat.
